Tuesday, 26 January 2010

Untung, gak untung?

Siang tadi kita sama-sama lunch.. dengan tempat makan 'rutin' *gleg*

Kenapa rutin? karena minimal seminggu 3 kali kita makan disini, yaitu kedai makan pepes jambal "Omas". Itu bukan nama sebenernya, kita para sesepuh kantor aja yang kasih nama, konon dikarenakan 'penampilan' sang pemilik yang mirip dengan Omas.. :p

"Semalem, gw isi bensin 25rebu.. terus gw bayar 50rebu, ehhh.. tuh orang kembaliin sok yakin gitu, udah di gulung.. pas gw buka di rumah, ga taunya 44rebu, 20rebu 1 lembar, 10rebu 2 lembar, laennya rebuan... paraah.." kata salah seorang yang ngoceh sambil ngunyahm, ga jauh dari kuping saya..

Temennya nyaut, "Wah, untung dong lo?"
"Iyee.. untung.." Jawab dirinya sambil memuji si sambal ijo yang pedas, temennya lalap (sayuran mentah, eg. timun, selada,dll).

**Hahh.. untung? Pala lo pitak.. ada yang mesti nombok tuh..** guman saya dalam hati, karena merasa aneh dengan pernyataan sikap mereka..

Kapan nge-Blog?

Wuhu, sudah lama banget ga posting-posting.. :D

Kapan nge-Blog?
a. Kalau inget
b. Kalau ada yang menarik
c. Kalau sempet

Jawabannya adalah 'd', semuanya benar.. ^___^

Saturday, 14 March 2009

Evil and Free Will

Suatu kali Tuhan memutuskan untuk menciptakan manusia, dengan kehendak bebasnya. Manusia memiliki hak untuk memutuskan, sama seperti Tuhan, sama seperti apakah itu dosa atau tidak. Itulah kebebasan yang dimaksudkan. Dan hal yang tidak dapat terpisahkan ketika Tuhan memutuskan untuk menciptakan manusia dengan kebebasannya tersebut adalah kejahatan dan, penderitaannya yang konsekuen yang dikarenakan kejahatan tersebut.

Jadi Tuhan lah yang menciptakan kejahatan?

Tidak, Tuhan hanya menciptakan kemungkinan untuk berbuat jahat; sebenarnya manusia berpotensi untuk itu. Sumber dari kejahatan bukanlah dari Tuhan, tetapi kebebasan manusia itulah sumbernya. Bahkan Tuhan yang maha kuasa pun tidak mampu membuat dunia, dengan manusia didalamnya memiliki kebebasan, namun tanpa potensi untuk berbuat jahat atau berdosa. Itu merupakan kontradiksi, sesuatu yang jadi tidak berarti, ketika menciptakan dunia dengan pilihan-pilhan yang nyata, tapi menghilangkan kemungkinan untuk memilih berbuat jahat.

Penderitaan yang paling besar meliputi dunia ini adalah dikarenakan kita memilih untuk membunuh, untuk memfitnah, untuk mementingkan diri sendiri, untuk berprilaku seksual yang menyimpang, menyangkal janji-janji kita, menjadi sembrono, serampangan.

Lalu, kenapa Tuhan tidak menciptakan dunia tanpa kebebasan saja kalau begitu?

Karena itu sama saja seperti dunia tanpa manusia. Itu akan menjadikan dunia tanpa rasa benci? Ya bisa. Apakah akan menjadikan dunia tanpa penderitaan? Ya bisa tentunya. Tapi itu juga menjadikan dunia yang tanpa cinta, yang adalah hal paling berharga dibumi ini. Dan hal yang paling berharga itu tidak akan pernah kita nikmati. Cinta yang sesungguhnya, cinta kepada Tuhan dan cinta kepada satu sama lain, memerlukan keputusan didalamnya. Tapi dalam proses keputusan-keputusan tersebut, juga terdapat potensi manusia untuk memutuskan membenci. Membenci Tuhan juga membenci satu sama lain.


-by
Peter John Kreeft

Sunday, 8 February 2009

I Like Christ But Not Christian


“I like your Christ, I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ.” -Mahatma Gandhi

Kalau Gandhi hidup saat ini dan masih muda, dia pakai bahasa yang agak gaul kira-kira begini bunyinya "Gua suka sama Kristus, tapi gua gak suka sama orang Kristen. Karena mereka bener-bener gak kayak Kristus."

So how about you guys?! I just need to listen from all of you..

Sunday, 18 January 2009

Tolong dong

"Hey Muhdi... buatin saya kopi dong.. gak pake lama YAA.. gulanya dikit aja, biasaaa.." ujar salah seorang staff, yang berpikir... kayaknya enak nih minum kopi, pas jam tiga sore dan pas ngantuk-ngantuknya di kantor. Atau ada kata tolong lainnya lagi, yang sampe ke rumah.. "Tolong dong ambilin buku mama yang ada di atas meja rias..." atau juga si anak ke orang tuanya, "Maaam... tolong dong, buatin aku mie instant.. aku lagi belajar nih.."

"itu kan wajar den.. kalau lagi sibuk dikantor... kita minta tolong OB untuk buatin ini atau itu.."
Ya ya ya.. saya ingin membahas bukan mengenai sibuknya, tetapi mengenai mental untuk dilayani.. atau lebih tepatnya memposisikan orang lain sebagai pelayan kita, yang tanpa sadar itu menjadi kebiasaan yang tidak positif, dengan meminimalkan atau memanipulasi arti kata tolong.. bukan benar-benar sebagai permohonan tetapi perintah (secara halus).

Andai kata kita bisa menghandle sendiri membuat kopi atau teh di kantor, tanpa harus mengandalkan OB.. maka GA bisa meng-efektifkan pekerjaan OB untuk pekerjaan lain, atau bahkan untuk kantor yang berskala kecil, kita bisa menghemat dengan hanya sedikit staff OB yang kita perlukan, dengan self service pantry. Lalu apa hubungannya dengan kita sebagai orang tua di rumah? atau sebagai anak?

Entah dari mana seorang anak belajar, mungkin sama seperti kita belajar by nature sama orang tua kita, atau atasan kita.. siapa pun itu adalah pemimpin atau orang yang pernah memimpin dalam bagian hidup kita, yang secara tidak langsung mempengaruhi gaya hidup ini. Sehingga anak, ya.., mereka cuma mengikuti apa yang biasa kita lakukan. Bukan cuma anak, staff-staff dikantor pun, akan cenderung mengikuti gaya kita jika suatu hari mereka memimpin..

Ada baiknya, jika kita belajar untuk melayani diri sendiri dan orang lain.. dan menggunakan kata "tolong" disaat kita benar-benar membutuhkannya, tulus dan dengan rasa hormat. Maka, kita akan melihat, ada rasa berharga yang lain ketika seseorang membantu pekerjaan-pekerjaan kita, ada rasa hormat yang sama ketika OB membuatkan sesuatu untuk kita, ada rasa hormat yang sama ketika anak-anak mengerjakan sesuatu untuk menolong kita orang tuanya, dan sebagai anak, ada baiknya untuk belajar melayani.. bukan memberi perintah, apa lagi sama orang tua.